Selasa, 12 November 2019

Ketika Dia Mengajakmu Serius

Sungguh tidak mudah bagi seorang pria untuk menyatakan keseriusannya pada seorang wanita. Terlebih kepada perempuan yang keshalihannya mungkin jauh melebihi dirinya. Butuh keberanian juga butuh mental yang kuat sebagai tameng jika suatu saat ia ditolak.

Mungkin ada cemas di dadanya. Mungkin ada rasa takut yang bersarang dalam hatinya. Atau mungkin ada ketidakpercayaan diri yang muncul di benaknya yang tidak kita ketahui. Namun, ia berupaya untuk percaya atas segala ketetapan Allah bahwa bila berjodoh, tidak ada yang dapat menghalanginya.

Lalu pada suatu waktu lelaki itu datang kepadamu dengan penuh kerendahan. Memberanikan diri mengajakmu pada hubungan yang halal. Ia ingin memuliakanmu diatas ijab yang sakral. Ia ingin menjadikan kamu sebagai ibu dari anak-anaknya. Ia ingin mengajakmu beribadah untuk sama-sama taat kepada-Nya. Sungguh mulia niat laki-laki itu, bukan?

Sebagai perempuan, sudah pasti ada haru di wajahmu ketika itu. Kau yang selama ini sibuk memperbaiki diri, akhirnya Allah datangkan padamu seorang pria sebagai teman untuk berbagi. Ia yang sosoknya tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Ia yang kehadirannya tidak pernah kau duga-duga. Pada akhirnya, Allah gerakkan hatinya, meminta kau menjadi istrinya.

Ketahuilah bahwa sebaik laki-laki adalah ia yang siap mengambil amanah ayahmu untuk mengemban tanggung jawab menafkahi dan membimbingmu. Ia yang mau mengambilmu dengan cara terhormat, diatas ijab yang disaksikan oleh para malaikat. Ia yang bersedia menaungimu, juga memenuhi segala kebutuhanmu.

Dan kau tahu? Sungguh tidaklah mudah bagi seorang pria. Maka hanya laki-laki shalih-lah yang mampu melakukannya. Bukan sembarangan pria. Hanya ia yang memiliki iman di dalam hati yang mempunyai niat mulia untuk menikahi. Bukan memacari. Dan perempuan harus memahami hal ini. Agar pandai menilai laki-laki mana yang layak untuk diseriusi.

Jika sekarang kamu sedang dalam fase ini, maka berbahagialah. Karena bisa jadi Allah sudah melihat kepantasan dalam dirimu untuk menjadi seorang istri. Siapapun laki-laki itu, sudah pasti ia baik jika memiliki niat untuk menikahimu. Namun, sebelum menerimanya coba diskusikan dulu kepada Tuhan di sepertiga malam. Karena tidak semua orang baik, berada pada satu frekuensi yang sama dengan kita.

Setelah istikharah kau lakukan, setelah berdoa kepada Allah, dan setelah meminta pendapat orang tua, semoga jawaban dari-Nya sudah bisa kau lihat. Bahwa bila berjodoh, semua restu akan mudah kau dapatkan. Semua perjuangan akan terasa dimudahkan. Maka berproseslah sesuai yang agama perintahkan. Buka hatimu, untuk ia yang ingin serius kepadamu.

Memang tidak ada yang bisa memastikan bahwa ia yang saat ini sedang berproses denganmu adalah ia yang nantinya akan menjadi jodohmu. TIDAK ADA. Tetapi satu hal yang harus kau yakini, bahwa segala yang kau upayakan hari ini adalah bentuk ikhtiar untuk mencari pasangan terbaik. Dengan niat karena Allah, semoga tak ada luka bila pada akhirnya bukan dia yang nanti membersamai di pelaminan.

-Repost from @gadisturatea-

10.16 (13/11/19)

Selasa, 22 Oktober 2019

Aku dan Kamu

Jika 'sore' membutuhkan 'senja' agar ia sempurna, maka 'aku' membutuhkan 'kamu' agar kita menjadi 'satu'.

Tapi, kamu siapa hayoo?
Aku harap kamu baik-baik saja dan selalu berada dalam lindungan-Nya yaaa :)

Sabtu, 30 Maret 2019

Untukmu Para Lelaki

Dear Lelaki...

Mungkin kamu mengharapkan seorang istri yang semisal Khadijah; keibuan lagi shalehah.
Barangkali kamu menginginkan seorang pendamping yang seperti Aisyah; muda lagi cerdas.
Pun mungkin saja, kamu memimpikan pasangan hidup seperti Zulaikha; cantik lagi kaya.

Akan tetapi,
Tolong jawab pertanyaan ini baik-baik.

Khadijah itu bukanlah perempuan muda.
Apakah kamu sanggup seperti Rasulullah, menerima istri yang lima belas tahun lebih tua dari beliau?

Aisyah itu pencemburu berat, pernah banting piring di depan para tamu.
Sungguh apakah kamu bisa sesabar Rasulullah yang menanggapi kemarahan istrinya dengan senyum kasih sayang?

Begitupun Zulaikha, Ia memiliki masa lalu yang bisa dibilang buruk. Pernah menggodai lelaki tampan tanpa rasa malu.
Mampukah kamu sebijak Yusuf yang memaafkan bahkan menerimanya dengan ketulusan?

Ya.
Jika istri para Rasul yang amat shalehah saja mempunyai kekurangan, maka apalagi perempuan di zaman sekarang bukan?

Jadi, saat kamu dengan lantang mengatakan, 'SAYA TERIMA NIKAHNYA', saat itulah seharusnya kamu siap menerima semuanya.

Menerima masa lalunya, seburuk apapun itu. Menerima kekurangannya, sejelek apapun itu.
Menerima apapun yang ada pada istrimu dengan tetap memposisikan diri sebagai imam; selalu membimbing dan menuntunnya menjadi lebih baik.

Pada intinya, sebagaimana kamu pun tidak sempurna, jangan pernah menuntut kesempurnaan pada pasanganmu.

Cintai dia tanpa tapi
dan,
sayangi dia dengan hati.

-Aby A. Izzuddin-