Sabtu, 07 November 2020

UJIAN

        Syaikh Abdul Qadir Jailani menjelaskan bahwa ketentuan ujian dari Allah itu :

Terkadang sebagai bentuk hukuman dan balasan perbuatan dosa dan maksiat.

Terkadang sebagai bentuk penghapus dan pengampunan dosa.

Terkadang sebagai bentuk pengangkatan derajat dan kedudukan agar sama dengan orang shaleh terdahulu.

        Kemudian Syaikh Abdul Qadir Jailani melanjutkan penjelasannya.
"Setiap ujian itu memiliki ciri, yaitu :

Ciri ujian sebagai bentuk balasan dan hukuman adalah tidak adanya kesabaran tatkala ujian itu datang, gelisah, dan mengeluh kepada Allah.

Ciri ujian sebagai bentuk penghapus dan pengampunan dosa adalah adanya sikap kesabaran total, tanpa adanya keluhan.

Ciri ujian sebagai bentuk pengangkatan derajat adalah adanya keridhoan, ketenangan jiwa, dan ketentraman atas perbuatan Tuhan bumi dan langit.

Ternyata ujian dari Allah itu bisa terlihat dari bagaimana reaksi kita ketika menyikapinya. Jika kita sudah mengetahui hal ini, maka jika ada ujian yang menimpa kita, kita akan berusaha kuat agar hati kita sabar dan ridha.

Kita akan mendekat kepada-Nya, memohon ampun, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kita.

Akhirnya, ujian yang awalnya kita pikir seperti hal yang buruk akan menjadi sesuatu yang bernilai kebaikan sekaligus mengangkat derajat kita.


Dikutip dari buku "Indahnya Pertolongan Allah" karya Arif Rahman Lubis.


21.09 (07/11/20)





Minggu, 05 Januari 2020

Quotes by Fiersa Besari

(1)
Jatuh hati tidak pernah bisa memilih.
Tuhan yang memilihkan.
Kita hanyalah korban.
Kecewa adalah konsekuensi, bahagia adalah bonus.

-Fiersa Besari

(2)
Beberapa rasa memang harus dibiarkan menjadi rahasia.
Bukan untuk diutarakan.
Hanya untuk disyukuri keberadaannya.

-Fiersa Besari

(3)
Beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi.
Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa.

-Fiersa Besari

12.28 (06/01/20)

Selasa, 12 November 2019

Ketika Dia Mengajakmu Serius

Sungguh tidak mudah bagi seorang pria untuk menyatakan keseriusannya pada seorang wanita. Terlebih kepada perempuan yang keshalihannya mungkin jauh melebihi dirinya. Butuh keberanian juga butuh mental yang kuat sebagai tameng jika suatu saat ia ditolak.

Mungkin ada cemas di dadanya. Mungkin ada rasa takut yang bersarang dalam hatinya. Atau mungkin ada ketidakpercayaan diri yang muncul di benaknya yang tidak kita ketahui. Namun, ia berupaya untuk percaya atas segala ketetapan Allah bahwa bila berjodoh, tidak ada yang dapat menghalanginya.

Lalu pada suatu waktu lelaki itu datang kepadamu dengan penuh kerendahan. Memberanikan diri mengajakmu pada hubungan yang halal. Ia ingin memuliakanmu diatas ijab yang sakral. Ia ingin menjadikan kamu sebagai ibu dari anak-anaknya. Ia ingin mengajakmu beribadah untuk sama-sama taat kepada-Nya. Sungguh mulia niat laki-laki itu, bukan?

Sebagai perempuan, sudah pasti ada haru di wajahmu ketika itu. Kau yang selama ini sibuk memperbaiki diri, akhirnya Allah datangkan padamu seorang pria sebagai teman untuk berbagi. Ia yang sosoknya tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Ia yang kehadirannya tidak pernah kau duga-duga. Pada akhirnya, Allah gerakkan hatinya, meminta kau menjadi istrinya.

Ketahuilah bahwa sebaik laki-laki adalah ia yang siap mengambil amanah ayahmu untuk mengemban tanggung jawab menafkahi dan membimbingmu. Ia yang mau mengambilmu dengan cara terhormat, diatas ijab yang disaksikan oleh para malaikat. Ia yang bersedia menaungimu, juga memenuhi segala kebutuhanmu.

Dan kau tahu? Sungguh tidaklah mudah bagi seorang pria. Maka hanya laki-laki shalih-lah yang mampu melakukannya. Bukan sembarangan pria. Hanya ia yang memiliki iman di dalam hati yang mempunyai niat mulia untuk menikahi. Bukan memacari. Dan perempuan harus memahami hal ini. Agar pandai menilai laki-laki mana yang layak untuk diseriusi.

Jika sekarang kamu sedang dalam fase ini, maka berbahagialah. Karena bisa jadi Allah sudah melihat kepantasan dalam dirimu untuk menjadi seorang istri. Siapapun laki-laki itu, sudah pasti ia baik jika memiliki niat untuk menikahimu. Namun, sebelum menerimanya coba diskusikan dulu kepada Tuhan di sepertiga malam. Karena tidak semua orang baik, berada pada satu frekuensi yang sama dengan kita.

Setelah istikharah kau lakukan, setelah berdoa kepada Allah, dan setelah meminta pendapat orang tua, semoga jawaban dari-Nya sudah bisa kau lihat. Bahwa bila berjodoh, semua restu akan mudah kau dapatkan. Semua perjuangan akan terasa dimudahkan. Maka berproseslah sesuai yang agama perintahkan. Buka hatimu, untuk ia yang ingin serius kepadamu.

Memang tidak ada yang bisa memastikan bahwa ia yang saat ini sedang berproses denganmu adalah ia yang nantinya akan menjadi jodohmu. TIDAK ADA. Tetapi satu hal yang harus kau yakini, bahwa segala yang kau upayakan hari ini adalah bentuk ikhtiar untuk mencari pasangan terbaik. Dengan niat karena Allah, semoga tak ada luka bila pada akhirnya bukan dia yang nanti membersamai di pelaminan.

-Repost from @gadisturatea-

10.16 (13/11/19)

Selasa, 22 Oktober 2019

Aku dan Kamu

Jika 'sore' membutuhkan 'senja' agar ia sempurna, maka 'aku' membutuhkan 'kamu' agar kita menjadi 'satu'.

Tapi, kamu siapa hayoo?
Aku harap kamu baik-baik saja dan selalu berada dalam lindungan-Nya yaaa :)

Sabtu, 30 Maret 2019

Untukmu Para Lelaki

Dear Lelaki...

Mungkin kamu mengharapkan seorang istri yang semisal Khadijah; keibuan lagi shalehah.
Barangkali kamu menginginkan seorang pendamping yang seperti Aisyah; muda lagi cerdas.
Pun mungkin saja, kamu memimpikan pasangan hidup seperti Zulaikha; cantik lagi kaya.

Akan tetapi,
Tolong jawab pertanyaan ini baik-baik.

Khadijah itu bukanlah perempuan muda.
Apakah kamu sanggup seperti Rasulullah, menerima istri yang lima belas tahun lebih tua dari beliau?

Aisyah itu pencemburu berat, pernah banting piring di depan para tamu.
Sungguh apakah kamu bisa sesabar Rasulullah yang menanggapi kemarahan istrinya dengan senyum kasih sayang?

Begitupun Zulaikha, Ia memiliki masa lalu yang bisa dibilang buruk. Pernah menggodai lelaki tampan tanpa rasa malu.
Mampukah kamu sebijak Yusuf yang memaafkan bahkan menerimanya dengan ketulusan?

Ya.
Jika istri para Rasul yang amat shalehah saja mempunyai kekurangan, maka apalagi perempuan di zaman sekarang bukan?

Jadi, saat kamu dengan lantang mengatakan, 'SAYA TERIMA NIKAHNYA', saat itulah seharusnya kamu siap menerima semuanya.

Menerima masa lalunya, seburuk apapun itu. Menerima kekurangannya, sejelek apapun itu.
Menerima apapun yang ada pada istrimu dengan tetap memposisikan diri sebagai imam; selalu membimbing dan menuntunnya menjadi lebih baik.

Pada intinya, sebagaimana kamu pun tidak sempurna, jangan pernah menuntut kesempurnaan pada pasanganmu.

Cintai dia tanpa tapi
dan,
sayangi dia dengan hati.

-Aby A. Izzuddin-

Jumat, 25 Agustus 2017

Send ur Message

Untuk temen2 yang punya kritik dan saran atau mau menyampaikan pesan yang belum tersampaikan. Entah itu karena malu, gak berani ngungkapin, atau mungkin punya unek unek dihati. Gaperlu nunggu dihipnotis uya kuya deh, langsung aja kirim pesan temen2, penerima pesan gak akan tau kok identitas pengirim. Jadi selow ae yak. Daripada unek2nya dipendem ya kan? Sakit loh mendem itu wkwk
Kamu mau bilang aku rajin, baik hati, tidak sombong, rajin menabung juga boleh. Atau mau yang jelek jelek tentang aku rapopo. Aku ikhlas, aku terima karena hakikatnya manusia itu gak luput dari kesalahan. Jadi, maaf kalo aku punya salah sama kalian:)

Send ur message to nralviah.sarahah.com

Trimakasiii:)

Minggu, 11 September 2016

PELAJARAN BERHARGA

Senin, 5 September 2016.

Hari ini adalah hari pertama gue masuk kuliah di awal semester 5. Dari hari Senin sampai Jumat, gue ada perkuliahan hari Senin, Rabu, dan Jumat. Kuliah singkat dengan jadwal yang padat. Jika dilihat di KRS, gue selesai perkuliahan hari Senin pukul 18.30. Mungkin karena baru awal perkuliahan, pada hari itu hanya selesai hingga pukul 17.30.
Gue memutuskan untuk segera pulang sebelum adzan maghrib berkumandang, karena gue gak mau maghriban di kampus alasannya takut pulangnya kemaleman. Dan gue pada saat itu juga bawa motor yang dititipin di tempat penitipan motor di pertigaan terminal Seruni. Memang gue rada takut kalo bawa motor malem apalagi jaraknya yang jauh dari rumah, karena mata gue meskipun pake kacamata tapi kalo liat sinar cahaya dari kendaraan lain atau lampu-lampu yang berkerlap-kerlip di jalanan serada silau dan jadi gak fokus.
Gue pun segera naik bis bareng temen. Sebelum masuk tol serang, bis primajasa yang kita naiki ngetem dulu biasa cari penumpang. Gue liat jam tangan, sekitar 10 menit lagi adzan maghrib berkumandang. Gue ngerasa was-was juga sih, dalem hati bilang “Duh... maghrib di jalan inimah”.
 Gak lama kemudian bis pun masuk tol Serang, kita ngobrol di sepanjang perjalanan, dan gak kerasa bis sudah masuk tol Cilegon. Gue pun siap-siap ngantri untuk turun. Temen gue bilang, “Hati-hati yaaa...”. Gue jawab, “Iya... duluan yaa”.
Gue liat jam tangan yang menunjukkan sekitar pukul 18.10 WIB. Gue turun dari bis dan segera menyebrang menuju ke tempat penitipan motor.
Tiba di penitipan motor...
Gue pun ngasih kertas parkir dan uang parkir ke mamangnya. Mamang yang jaga motor disana memang sebagian ada yang kenal gue, motor yang gue pake pun sampe tau. Mamangnya bilang, “Neng, kok dikunci stang sih?”, gue kira mamangnya cuma bercanda karena gue gak  ngerasa ngunci stang motornya. Gue bilang, “Iyatah mang? engga kok”Mamangnya bilang lagi, “Lagi galau ya neng?”. Gue cengar cengir aja “He-he”.
          Setelah motor dan helmnya dibersihin mamangnya, gue langsung tancap gas pulang. Gue bawa motor matic dan memakai helm baru yang selama liburan gak pernah gue pake, dan gue pake hari itu di awal masuk kuliah. Kebiasaan gue kalo pake helm, gue males masukin tali ke penjepit helmnya. Jadi, kadang gue biarin aja ngebuka talinya. Di perempatan lampu merah Giant gue berenti dulu, yaa karena lampu merah. Setelah lampu hijau, gue tancap gas lagi. Gue ngebut saat itu, ngejar waktu maghrib. Gue sih emang gasuka bawa motor pelan-pelan gitu apalagi yang kecepatannya cuma 20 km/h atau 40 km/h. Greget aja bawanya. Apalagi kalo ada yang ngehalangin jalan gue di depan, contohnya mobil yang jalannya lama banget, bikin gue greget. Mau nyalip takut, gak nyalip bikin greget. 
        Karena gue ngebut dari kejauhan gue gak liat kalo ada penutup jalan karena jalan disitu lagi diperbaiki. Saat gue liat disitu ada penutup jalan, gue rem mendadak. Gue gak nyangka gue bakalan jatoh saat itu. Gue jatoh ke aspal, gue keseret sekitar 2m dari motor. Kepala gue pusing banget saat itu, nyut-nyutan ga karuan. Mata berkunang-kunang, serasa dunia berputar. Gue denger teriakan orang-orang di sekitar, “Wee... tolongiiinn tolongiiinnn!!”
      Gue gabisa jalan, gerak pun rasanya susah. Gue gak mikirin motor saat itu gimana, karena ngerasain kepala gue yang pusing banget. Untungnya helm gak lepas dari kepala gue karena talinya gak gue masukin di penjepit helm. Dan untungnya helmnya nge-pas banget di kepala, gue gak kebayang apa jadinya nih kepala kalo gue saat itu pake helm teteh gue yang agak gede, yang kalo dibawa ngebut helmnya serasa mau terbang.
        Alhamdulillah lagi orang yang nolongin gue baik banget, motor gue dipinggirin, sendal gue yang terlempar diambilin, kaca mata gue yang jatuh juga diambilin, gue digotong saat itu ke depan rumah orang yang nolongin gue. Gue ditanyain sama orang yang nolong gue, “gapapa neng?” || "pusing sih.." (gue gak menyadari kalo tangan, kaki, dan wajah gue luka-luka karena gue sibuk mijitin kepala gue yang pusing banget sampe rasa sakit yang lain gak kerasa). Rok yang gue pake pas dilutut juga sobek.
Terus gue nyoba ngehubungin orang tua gue, teteh gue, dan adek gue. Gue tanya ke orang yang nolong gue, “Ini dimana Pak?”, katanya sih di deket Toyota Dealer. Terus  gue bm teteh gue tapi blm di read2, gue misscall no hp bapak dan ibu gue gak ada jawaban. Ya mungkin karena waktunya maghrib juga, mereka lagi sholat atau ngaji gue gatau. Terus gue line ade gue juga blm di read. Rasanya gue udh gak sanggup natap layar hp lagi, gue pun minta tolong temen gue untuk ke rumah gue ngabarin kalo gue abis jatoh dari motor dan minta tolong juga ke temen gue yang lain untuk nyoba ngehubungin orang tua gue. Hp pun gue matiin.
            Ibu yang punya rumah baik banget, ngebuatin gue teh manis anget dan bawain air putih. Gue disuruh minum dulu biar agak kuat. Tapi gue gak mau, karena masih ngerasain kepala gue yang pusing banget. Orang-orang disana nyuruh gue ke Klinik Alfina aja dan nunggu orang tua gue disana. Awalnya gue gak mau dan mau tetep nunggu disitu, tapi akhirnya gue mau juga dibawa ke klinik sambil nunggu ortu gue disana. Sebelum itu gue minum teh manisnya dulu, terus gue dibawa naik motor ke klinik. Saat di motor gue mikir, “Duhh... belum sholat gimana nihh?” Gue ngebayangin kalo gue m*ningg*l saat itu dan keadaan gue belum sholat. ASTAGHFIRULLAH.... gue istighfar sepanjang jalan ke klinik, gue mohon ampunan sama Allah, karena gue lebih milih pulang dibanding menunggu adzan maghrib berkumandang di kampus. Yaa Allah, maafkan Akuuu:”(
Mungkin kejadian ini teguran dari-Nya... astaghfirullah.

             Tiba di Klinik Alfina...
          Gue langsung diperiksa dokternya. Sebelum diobatin, luka-luka ditubuh gue dibersihin dulu. Gue tahan sakitnya yang baru kerasa, gue juga sambil megangin kepala gue yang masih sakit. Saat ngebersihin wajah, dokternya bilang, “Wahh... ini yang didagu kayanya harus dijait nih, yang dijidat juga.” Ngedenger itu gue kaget, “Emang separah apa lukanya sampe mau dijait?” Gue pun dikasih kaca agar ngeliat sendiri lukanya dan bener aja yang didagu agak lebar lukanya tapi kalo dijidat tidak terlalu lebar. Dokternya bilang, “Paling yang didagu 3 jaitan terus yang dijidat 1 jaitan”. Gue tanya, “Sakit yaa?” || "Yaa sakit... namanya juga dijait” kata dokternya.
            Dagu dan jidat gue pun akhirnya dijait, sebelum dagu gue dijait, disuntik kebal dulu agar tidak kerasa sakitnya tapi kalo yang dijidat gak disuntik kebal dulu (apa yang disuntik? kan tulang semua) gue tahan aja sakitnya. Gak lama dari itu orang tua gue akhirnya dateng, yang awalnya gue gak nangis entah kenapa saat gue ngeliat mereka gue nangis. Yaa walaupun hanya menetes sedikit sih. Mereka nanya keadaan gue gimana, kenapa bisa jatoh, dll. Setelah ortu gue ngucapin terima kasih ke orang yang nolongin gue, gue pun dibawa pulang dengan dibonceng mama gue naik motor yang tadi gue bawa.
          Sesampainya di rumah, gue langsung istirahat dan ngeliat barang2 yang gue pake saat jatoh tadi. Helm baru yang saat itu baru dipake, kaca mata yang malem minggu (3 september) baru ganti bingkai dan ternyata lensanya ilang satu, tas yang baru sebulan gue pake kotor, rok biru kesayangan gue yang sobek. Sedih memang tapi namanya juga musibah.
        Ini pelajaran berharga banget buat gue, mungkin gue lagi ditegur sama Allah agar jangan ngulangin hal yang sama. Allah ngasih kamu ujian atau musibah itu karena Dia sayang sama kamu, Dia mau kamu berubah menjadi yang lebih baik lagi. ALHAMDULILLAH dalam kejadian ini gue masih dikasih umur, gak kebayang kalo saat gue jatoh terus ada kendaraan lain yang nabrak gue. Kejadian ini kaya temen gue. Tiga hari setelah gue kecelakaan, gue dapet kabar bahwa temen SMP gue meninggal. Awalnya dia serempetan dengan motor lain sehingga terjatuh. Saat mereka terjatuh, ada truk yang menabrak lari mereka. Mereka pun meninggal ditempat. Innalillahi wa innailaihi rooji’un... Semoga mereka ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.
            Murobbiku bilang, “Allah lagi sayang, makanya menggugurkan dosamu dengan sakit. Urwah bin Zubair, kakinya harus diamputasi karena infeksi. Pas Tabib menawarkan untuk membiusnya, beliau gak mau karena ingin merasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah SWT. Ketika beberapa orang ingin memegangi kakinya, beliau gak mau, katanya “Akan kubekali diriku dengan dzikir dan tasbih”. Terus Tabib memotong kakinya dengan pisau, sampai di tulang baru dipotong dengan gergaji. Abis itu dituangkan minyak panas dan dioleskan di kakinya untuk menghentikan pendarahan dan menutup lukanya. Dan beliau menikmatinya karena yakin Allah membalas sakit itu dengan pahala. Itulah Urwah bin Zubair, anaknya Asma binti Abu Bakar dan Zubair bin Awwam.”
            Kata-kata itu memotivasi gue untuk tidak mengeluh dalam menghadapi rasa sakit ini. Nikmati saja setiap prosesnya. Belajarlah dari sikap Urwah bin Zubair yang menikmati setiap prosesnya dengan dzikir dan tasbih.